Makalah

PENDIDIKAN KARAKTER

Oleh Subandi, S.Pd

Guru SMPN 1 PEKALONGAN

Budaya dan karakter bangsa sering dikemukakan  dalam berbagai media massa. Sorotan tajam tentang aspek kehidupan bermasyarakat tertuang dalam tulisan media cetak, elektronik audio maupun audio visual. Selain di media masa Karakter bangsa sering kita dengar dari tokoh masyarakat, para peneliti, pengamat pendidikan, pengamat sosial, bahkan pengamat politik. Permasalahan yang muncul dimasyarakat seperti korupsi, kekerasan, kejahatan, kekerasan sexsual, ketidakadilan, kekacauan ekonomi, ekonomi konsumtif, politik yang tidak produktif, dan sebagainya sering diungkapkan dalam media massa maupun seminar-seminar baik tingkat regional maupun nasional. Berbagai alternatif penyelesaian telah diajukan seperti peraturan, undang-undang, pelaksanaan dan penerapan hukum yang lebih kuat.

Alternatif lain yang diajukan masalah karaker bangsa adalah pendidikan. Pendidikan dianggap alternatif yang bersifat preventif, karena pendidikan membangun generasi bangsa baru yang lebih baik. Pembentukan generasi bangsa baru yang lebih baik akan meningkatkan kualitas kebangsaan dan meminimalisasi masalah sosial yang sedang berkecamuk saat ini.

Kurikulum adalah jantungnya pendidikan (curriculum is the heart of education) oleh karena itu sudah seharusnya kurikum memberikan perhatian yang lebih pada pendidikan karakter bangsa. Aplikasi kurikulum semua mata pelajaran pada satuan pendidikan perlu pemasukan pendidikan karakter sebagai sarana menghasilkan generasi muda siap menyongsong perubahan dalam barbangsa dan bernegara.

Pengertian Budaya dan Karakter Bangsa

Undang-undang no 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional (Undang-undang Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam upaya pengembangan pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab.” Tujuan yang sangat muli dalam UU Sisdikanas haruslah dapat diimplementasikan dalam pendidikan formal maupun nonformal. Komponen pendidikan harus diupayakan untuk pengembangan pendidikan dengan muara tercapainya generasi muda penerus bangsa yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Budaya diartikan sebagai keseluruhan sistim berfikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan (bilief) manusia yang dihasilkan masyarakat. Sistim berfikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan  manusia yang positif akan berdampak pada sistim ekonomi, sistim sosial, sistim pendidikan, seni, ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan semua sistim yang melingkupi kehidupan bermasyarakat. Pendidikan merupakan upaya terencana dalam upaya pengembangan potensi peserta didik, sehingga mereka mempunyai sistim berfikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya dan mengembangkan warisan tersebut kearah yang sesuai untuk kehidupan masa kini dan masa yang akan dating.

Setiap manusia ditakdirkan mempunyai jati diri yang dapat ditampilkan. Permasalahannya jati diri seseorang terkadang tidak dapat ditampilkan dalam kehidupan. Pendidikan diharapkan mampu menampilkan jati diri seseorang untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Jati diri dapat ditampilkan apabila peserta didik mempunyai potensi. Potensi manusia bisa terlihat dan diarahkan dengan pendidikan. Seseorang yang mempunyai jatidiri ditampilkan dengan potensi yang ada maka akan terlihat bahwa orang tersebut dapat tampil : (1) apa adanya, (2) tidak pakai kedok/topeng, (3) merupakan perpaduan cipta, rasa, dan karsa, (4) mengintegrasikan dengan baik jatidiri, karakter, dan kepribadian.

Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang dibentuk dari hasil internalisasi sebagai kebijakan (virtues) yang diyakini sebagai landasan cara berfikir, bersikap, dan bertindak. Kebijakan terdiri atas berbagai nilai moral, nilai kesopanan, nilai-nilai yang ada di masyarakat berguna untuk kehidupan barmasyarakat. Karakter juga dapat diartikan sifat yang mewujud dalam kemampuan daya dorong dari dalam keluar seseorang untuk menampilkan tampilan terpuji dan mengandung kebajikan. Karakter lahir dari dalam hati nurani yang tercermin dalam prilaku dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga orang yang mempunyai karakter akan terlihat dalam prilaku dalam kehidupan.

Definisi karakter menurut beberapa ahli:

  1. Sistim daya juang yang menggunakan nila—nilai moral yang terpatri dalam diri kita yang melandasi pemikiran, sikap, dan prilaku (Nani Nurrachman). Nani Nurachman mengumgkapkan bahwa karakter sudah terpatri nalam diri setiap indifidu yang ditampilkan sekuat tenaga berdasarkan nilai-nilai moral yang terwujud dalam setiap gerak, langkah, pemikiran, dan partisipasi kita dalam kehidupan bermasyarakat.
  2. Karakter mendorong kita hidup dalam kehidupan (Soemarno Soedarsono). Menurut Soemarno Soedarsono manusia dalam kehidupan akan semakin bermakna dengan berkarakter.
  3. Sifat tertanam/menghunjam di dalam jiwa dangan sifat itu seseorang secara spontan/dapat dengan mudah memancarkan sikap, tindakan, dan perbuatan (Imam Ghozali). Karakter telah ada dalam diri seseorang dan penampakannya bersifat spontan dalam prilaku berkehidupan bermasyarakat.

Pengertian pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik, sehingga mereka memiliki dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif, dan krestif.

Secara prakmatik, pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah usaha bersama semua guru dan pimpinan sekolah, melalui semua mata pelajaran dan budaya sekolah dalam membina dan mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada peserta didik. Pembinaan dan pengembangan itu terjadi melalui proses aktif peserta didik dalam belajar.

Secara tenis pengertian pendidikan budaya dan karakter bangsa diartikan sebagai proses internalisasi serta penghayatan nilai-nilai budaya  dan karakter bangsa yang dilakukan peserta didik secara aktif di bawah bimbingan guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan serta diwujutkan dalam kehidupannya di kelas, sekolah, dan masyarakat.

Landasan, Fungsi, dan Tujuan

Landasan

            Pendidikan adalah warisan budaya bangsa sehingga pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan segala aktifitas masyarakat. Kenyataan sejak jaman kerajaan-kerajan di nusantara pendidikan ikut berperan dalam memajukan bangsa. Orang ahli/kepercayaan kerajaan pada perjalanannya pastilah seseorang yang telah belajar pada pandhita atau orang pintar pada jamannya dengan cara meguru atau bertapa mengikuti semua perintah dan saran sang maha guru. Ketika sudah cukup bekal dan ilmunya maka akan turun gunung untuk mengamalkan ilmu yang didalat dengan mengabdi pada kerajaan.

Pendidikan pada jaman sekarang dalam prosesnya tidak berbeda jauh dengan pendidikan masa lampau. Pada dasarnya pendidikan harus dicari, jaman sekarang pencarian pendidikan tersebar pada lembaga-lembaga pendidikan formal maupun pendidikan nonformal. Pencarian ilmu pendidikan tidak ada batasan geografi, waktu, biaya, dan sarana dan prasarana. Tidak mengherankan masyarakat sekarang berlomba-lomba mencari ilmu dan pengetahuan untuk kehidupan dan sebagai penunjangnya dalam bermasyarakat. Strata sosial masyarakat sangat dipengaruhi dengan pendidikan. Semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin tinggi status sosial dimasyarakat, kenyatan ini membuat orang berlomba untuk mendapatkan pendidikan terbaik terutama bagi generasi penerus bangsa.

Fungsi

  1. Pengembangan:

pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi perilaku yang baik bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa

  1. Perbaikan:

memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggungjawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat

  1. Penyaring:

untuk menyaring budaya-budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.

Tujuan

—  Mengembangkan potensi afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.

—  Mengembangkan kebiasaan dan perilaku terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal, dan tradisi budaya bangsa INDONESIA yang religius.

—  Menanamkan jiwa KEPAHLAWANAN, kepemimpinan dan tanggungjawab peserta didik sebagai penerus bangsa.

—  Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan.

—  Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).

Sumber Nilai-nilai

—  Agama

—  Pancasila

—  Budaya

—  Tujuan Pendidikan Nasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: