Implementasi Pendidikan Karakter

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA

Oleh : Subandi, S.Pd

            Pada prinsipnya pendidikan budaya dan karakter bangsa tidak masuk dalam mata pelajaran, tetapi terintegrasi dalam mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah. Komponen sekolah, guru dan pihak sekolah harus mengintegrasikan pendidikan budaya, dan pendidikan karakter bangsa melalui integritas mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah kedalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Silabus, dan Rancangan Program Pembelajaran (RPP). Perancangan proses belajar mengajar sebagai satu kesatuan proses dalam upaya penciptaan peserta didik yang mempunyai karakter bangsa. Keterkaitan komponen yang ada di sekolah sangat membantu proses pembelajaran.

Prinsip pembelajaran yang digunakan untuk pengembangan pendidikan budaya dan pendidikan karakter bangsa, mengusahakan agar peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai budaya dan karakter bangsa sebagai milik mereka dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya mengenai tahapan pengenalan pilihan, menilai pemilihan, menentukan pendirian, dan selanjutnya menentukan pilihan sesuai dengan dirinya. Dengan proses ini peserta didik belajar berfikir, bersikap, dan berbuat. Ketiga proses tersebut mendorong peserta didik untuk melakukan tindakan sosial dan pada akhirnya peserta didik dapat menempatkan diri pada komunitas sosial.

Implementasi pendidikan budaya dan karakter bangsa dalam dunia pendidikan haruslah direncanakan secara matang pada awal tahun pelajaran dan dikuatkan setiap awal semester. Prinsip-prinsip yang dikembangkan haruslah:

  1. Berkelanjutan, pendidikan karakter dilakukan secara terus menerus dan konsisten pada semua aspek dan komponen sekolah. Proses berkelanjutan dimulai dari  SD, SMP, hingga SMA, sehingga ada kesinambungan dan menjadi pembiasaan pada peserta didik. Harapan yang muncul prilaku sosial dapat teraktualisasi di masyarakat.
  2. Melalui semua mata pelajaran, muatan lokal, kepribadian, dan budaya sekolah dengan memasukkan pendidikan karakter kedalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Silabus, dan Rancangan Program Pembelajaran (RPP).
  3. Nilai tidak diajarkan tetapi dikembangkan, nilai-nilai yang ada di sekolah dan masyarakat diidentifikasi dan dikembangkan sebagai keramahan sosial masyarakat. Nilai-nilai tidak diajarkan dalam pokok bahasan seperti teori pada mata pelajaran IPA, IPS, PKn, matematika, mulok, agama dan mata pelajaran lainnya. Materi dalam mata pelajaran bisa dikembangkan sebagai media dalam pembelajaran karakter bangsa, sehingga pendidikan budaya dan karakter bangsa tidak perlu mengubah pokok bahasan yang sudah ada, tetapi menggunakan materi pokok dalam pembelajaran itu untuk memasukkan pendidikan karakter bangsa. Sebagai konsekuensinya pendidikan budaya dan karakter bangsa tidak perlu muncul dalam ulangan mata pejajaran.
  4. Dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan, fokus pengembangan adalah peserta didik dengan berupaya nilai pendidikan karakter muncul sebagai wujud dari dorongan diri sehingga memunculkan prilaku yang positif. Dalam proses pembelajaran ini guru harus “tut wuri handayani” dalam setiap perilaku yang ditunjukkan peserta didik, guru memantau dan mangarahkan peserta agar aktif dalam merumuskan pertanyan, mencari informasi, mencari sumber informasi, mengolah informasi, dan menyajikan hasil.

Perencanaan Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Pendidikan budaya dan karakter bangsa tanpa direncanakan dengan matang hanyalah akan menjadi wacana pada tingkat satuan pendidikan. Perencananan pemasukan pendidikan budaya dan karakter bangsa haruslah dilakukan secara bersama antara: kepala sekolah, guru, dan tenaga pendidikan (konselor) secara bersama-sama sebagai suatu komunitas pendidikan dan diterapkan dalam kurikulum pendidikan sebagi berikut:

  1. Program pengembangan diri.

Dalam program ini pendidikan budaya dan karakter bangsa dilakukan dengan mengintegrasikan dalam kegiatan sehari-hari di sekolah dengan (1) kegiatan rutin seperti: Peringatan Hari Besar Nasional, upacara bendera, pemerikasaan kesehatan, pembiasaan salam senyum sapa, beribadah atau sholat bersama, mengawali dan mengakhiri pelajaran dengan berdo’a dsb. (2) Kegiatan spontan yaitu dengan melakukan spontan saat itu juga apabila ada peserta didik berprilaku tidak sesuai norma dan aturan langsung dievaluasi dan diingatkan.(3) Keteladanan, yaitu guru langsung memberi keteladanan dalam bersikap dan bertindak kepada siswa. (4) Mengkondisikan, dalam hal ini sekolah senantiasa mengkondisikan semua komponen sekolah sebagaimana fungsi dan kegunaannya, contoh toilet selalu bersih, mebuang sampah pada tempatnya, meja selalu rapi dsb.

  1. Pengintegrasian dalam mata pelajaran, pendidikan budaya dan karakter bangsa haruslah di cantumkan dalam KTSP, terutama pada RPP setiap mata pelajaran.
  2. Budaya sekolah, budaya sekolah adalah suasana tempat peserta didik berinteraksi dengan sesamanya, guru dengan guru, tenaga admisistrasi dengan sesamanya dan semua komponen yang ada disekolah. Interaksi kelompok dan antar kelompok yang dikembangkan terkait norma dan aturan, moral serta etika besama yang berlaku di sekolah. Kepemimpinan, keteladanan, keramahan, toleransi, kerja keras, disiplin, kepedulian sosial, kepedulian lingkungan, rasa kebangsaan, dan tanggung jawab merupakan nilai-nilai yang dikembangkan dalam budaya sekolah.
  3. Pengembangan proses belajan, pendidikan budaya dan karakter bangsa menggunakan pendekatan proses belajar siswa aktif dan berpusat pada siswa, dilakukan dengan berbagai kegiatan di sekolah, lingkungan, dan masyarakat.

Pendidikan budaya dan karakter bangsa hanyalah sebuah konsep tanpa direncanakan dan dilaksankan secara terprogram dan terkonsep. Yang tidak kalah pentingnya dalam pelaksanaanya haruslah dilaksanakan perumusan dan pelaksanaan penilaian hasil belajar pendidikan budaya dan karakter bangsa pada setiap sekolah. Untuk melaksanakan penilaian pendidikan budaya dan karakter kebangsaan perlu dibuat indikator penilaian tingkat sekolah dan tingkat kelas. Dengan indikator dan penilaian yang jelas sesuai aturan yang ada memungkinkan pendidikan budaya dan karakter bangsa menjadi lokomotif pencitran sekolah dimasyarakat.

Apresiasi masyarakat pada sekolah selain hasil nilai belajar mata pelajaran yang kompetitif, juga dapat diangkat dengan penampilan budaya sekolah yang menjadi ciri pembeda suatu sekolah dengan sekolah yang lain. Penilaian masyarakat pada suatu sekolah bisa menjadi pengadilan untuk sekolah itu sendiri meskipun tanpa adanya peraturan tertulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: