Menanamkan Pendidikan Karakter Melalui Penulisan Cerkak Berbasis Pengalaman Pribadi

   Pendidikan karakter dapat ditanamkan melalui pembelajaran sastra, khususnya menulis cerkak. Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai dasar penulisan cerita cekak. Nilai menghargai pendapat orang lain dapat dicerminkan melalui dialog antartokoh cerita. Nilai kerja kelompok, dan nilai lain yang mencerminkan pendidikan karakter dapat dieksplisitkan melalui cerita cekak. Ada 7 langkah strategi penulisan, yaitu

  1. apersepsi,
  2. pengingatan pengalaman,
  3. pemilihan peristiwa dari berbagai peristiwa yang pernah dialami,
  4. penyusunan rangkaian peristiwa atau urutan peristiwa,
  5. perangkaian peristiwa fiktif,
  6. menyusun cerita cekak,
  7. revisi dan penjadian tulisan cerita pendek.

Selanjutnya, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk membaca ulang cerita pendek yang telah disusunnya. Kemudian guru memberi masukkan atau saran jika terdapat hal-hal yang harus direvisi. Langkah berikutnya adalah penulisan final cerita cekak.

Kata Kunci: cerita cekak, pengalaman pribadi, pendidikan karakter

1/

     Isu pendidikan karakter menjadi sangat penting terutama dalam menghadapi era global sekarang ini. Pendidikan karakter harus diberikan kepada peserta didik sejak dini. Meskipun sebenarnya pendidikan karakter sudah tercakupi dalam pelajaran PPKn, Agama, dan beberapa pelajaran lain, sejarah misalnya, ternyata kenakalan remaja justru menjadi semakin meningkat. Apakah ada hubungan yang signifikan antara pembelajaran-pembelajaran tersebut dengan kandungan pendidikan karakter? Penelitian mengenai ini belum dilakukan. Bisa saja metode pembelajaran yang membosankan sehingga nilai-nilai karakter yang ingin disampaikan menjadi sia-sia karena jenuh misalnya. Meskipun berbagai cara sudah dilakukan , tak ada salahnya pembelajaran sastra ikut mengambil peran.

Salah satu keuntungan pembelajaran sastra adalah menanamkan nilai-nilai tanpa harus secara formalistic paksaan diberikan. Sastra beserta nilai-nilai kandungannya gampang terinternalisasi karena sifat sastra yang mampu menciptakan dimajinasi. Sebagaimana dinyatakan Gramsci (1987) sastra di samping merupakan situs ideology dan di dalamnya terkandung berbagai ideology sastra juga merupakan institusi ideology. Sebagai institusi sastra dapat digunakan sebagai alat ideology dalam rangka menyebarkan atau menanamkan ideology. Sebagai situs ideology, nilai-nilai yang terkadung di dalam teks sastra secara tidak sadar dapat mempengaruhi pembaca sastra. Mereka terhegemoni nilai-nilai, ideology-ideologi yang terdapat dalam teks. Bahkan, penelitian sosiologi sastra yang dilakukan Watson (1989), Faruk (2007) menunjukkan bahwa sastra mampu membentuk selera masyarakat pembaca. Teks sastra, dengan demikian, tidak dapat dilepaskan dengan lingkup sosial budayanya. Ia menjadi alat penyebaran ideologi dominan supaya menjadi ideologi hegemonik yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik yang belajar sastra.

Namun demikian, teks sastra (misalnya cerita cekak) merupakan bangun struktur yang signifikan, yaitu merupakan produk strukturasi yang berlangsung secara terus-menerus dari subjek tertentu terhadap dunia. Pengarang secara terus menerus belajar pada lingkungan. Pengalaman-pengalaman itulah yang mengendap dan menjadi bahan yang sangat berharga dalam berkarya. Pandangan inilah yang melatarbelakangi penulisan makalah ini. Pandangan ini memandang bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur yang utuh secara keseluruhan dan yang dibangun dari hubungannya satu sama lain antara unsur-unsur itu. Meskipun begitu, proses strukturasi tersebut merupakan proses strukturasi yang secara signifikan berlangsung secara terus-menerus dan merupakan bagian dari proses strukturasi yang lebih besar, yaitu dunia yang ada di luar teks. Hal itu dimungkinkan karena pada hakikatnya proses strukturasi tersebut merupakan dialektika antara hal-hal yang ada di dalam teks dan yang ada di luar teks melalui subjek kolektif atau transindividual. Hubungan antara keduanya dijembatani oleh vision du monde atau pandangan dunia. Melalui pandangan (teori ini), cerita cekak merupakan bagian dari struktur penulisnya yang terus menerus dibentuk melalui pengalaman menyerap lingkungannya berikut peristiwa-peristiwa yang dialaminya. Sastra merupakan sistem tanda yang diungkapkan melalui bahasa sebagai mediumnya karena sastra pada dasarnya adalah aktivitas bahasa. Lotman mengatakan bahwa bahasa sastra merupakan model bahasa sekunder yang tercipta dari model primer sebagai bahasa sehari-hari. Dengan demikian cerita cekak harus dilihat secara kodratnya sebagai sistem semiotik. Oleh karena itu, penulisan cerita cekak harus memperhatikan sistem tanda dan sistem struktur. Artinya, bagian-bagian struktur teks harus dikuasai penulis cerita. Pada tataran inilah nilai-nilai karakter dapat dieksplisitkan melalui unsur-unsur cerita.

Dalam kaitan ini, menjadi strategis belajar menulis cerita cekak sambil sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter sehingga nilai-nilai tersebut tanpa disadari peserta didik terinternalisasi. Di samping itu, keuntungan lain adalah pembaca cerita cekak tanpa sadar juga menjadi terpengaruh nilai-nilai karaktyer yang terkandung di dalam teks sastra tersebut. Namun ada persoalan, yaitu kurang bisanya menulis cerita cekak pada diri siswa. Kebanyakan siswa kurang mampu mengekspresikan pengalamannya dalam bentuk tulisan. Meskipun mereka memiliki banyak pengalaman pribadi maupun pengalaman yang diceritakan teman sejawat atau teman sekelas mereka masih kebingungan bahagaimana menuliskannya. Pada sidang yang terhormat ini saya mencoba memaparkan bagaimana belajar menulis cerita cekak berbasis pengalaman pribadi sekaligus menanamkan pendidikan karakter.

2/

Salah satu tujuan umum pembelajaran Bahasa dan Sastra Jawa adalah agar siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Agar tujuan tersebut tercapai, lembaga pendidikan memegang peranan penting dalan upaya meningkatkan kemampuan penguasaan dan penggunaan bahasa Jawa dengan baik dan benar. Standar kompetensi pelajaran Bahasa dan Sastra Jawa terdiri atas dua aspek, yaitu aspek keterampilan atau kemampuan berbahasa dan bersastra. Aspek kemampuan berbahasa dan bersastra masing-masing terbagi atas subaspek menyimak, berbicara, membaca, dan menulis (Depdiknas 2003:3).

Keempat subaspek tersebut, dua yang disebutkan pertama, yakni menyimak dan berbicara, marupakan subaspek yang menyangkut bahasa lisan. Dua subaspek terakhir menyangkut bahasa tulis, yaitu membaca dan menulis. Di antara ke empat subaspek itu, yaitu menyimak dan membaca merupakan kemampuan reseptif karena berkenan dengan memahami bahasa. Sementara itu, kemampuan yang lain yaitu menulis dan berbicara merupakan kemampuan bahasa yang paling tinggi tingkatannya. Pada waktu menulis, seseorang dihadapkan pada masalah ejaan, morfologi, sintaksis, semantik maupun wacana. Secara umum, aspek menulis dan berbaicara diukur melalui kesesuaian judul dengan isi, alur kalimat, wacana, dan muatan isi.

Menulis adalah sebuah katerampilan berbahasa yang sangat dibutuhkan pada masa sekarang. Keterampilan menulis tidak dimiliki dengan sendirinya. Kemampuan ini memerlukan waktu yang lama untuk diperolehnya. Dengan menulis, seseorang dapat mengekspresikan ide-ide dan gagasan melalui bahasa tulis. Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa tidak hanya menulis tanpa maksud. Menulis haruslah dalam konteks yang teratur, sistematis dan logis. Tarigan (1986:3) menyebutkan, bahwa menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung.

Pembelajaran menulis harus lebih banyak bersifat aplikatif sehingga berupa pelatihan-pelatihan kegiatan menulis. Kegiatan tersebut memungkinkan siswa mau, gemar, dan akhirnya memiliki kemampuan dan terbiasa menulis. Kemampuan menulis bukanlah suatu keterampilan yang dapat diajarkan melalui uraian atau penjelasan semata-mata. Siswa tidak akan memperoleh kemampuan menulis hanya dengan mencatat apa yang ia dengar. Pembelajaran menulis dapat berhasil dengan baik jika siswa melakukan kegiatan menulis secara terus-menerus.

Dengan menulis siswa dapat menuangkan gagasan atau pengalaman pribadinya yang dapat bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. Dengan demikain, menulis dapat dikatakan sebagai alat atau wahana menyampaikan buah pikirannya. Menulis juga dapat dijadikan jalan untuk mengungkapkan gagasan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Menulis juga dapat dimanfaatkan untuk pembangunan karakter siswa. Mrelalui penulisan cerkak siswa dapat diajari karakter yang baik. Pendidikan karakter sebenarnya adalah mentransfer nilai-nilai luhur yang harus diberikan sejak dini. Melalui cerita, nilai-nilai tersebut secara tidak sadar dapat terinternalisasi. Kekuatan sastra sebenarnya adalah terletak pada kekuatan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai menghargai pendapat orang lain dapat dicerminkan melalui dialog antartokoh cerita. sejak dini.

Modal penulisan cerita anak dapat saja berasal dari pengalaman diri siswa itu sendiri. Pengalaman pribadi merupakan modal yang tak ternilai sehingga seringkali berkesan mendalam pada diri siswa. Namun demikian, bahan penulisan cerkak juga dapat diambil dari pengalaman orang lain. Praktik menulis dapat dengan menulis kreatif. Salah satu wujud dari menulis kreatif adalah cerita pendek (cerpen, dalam bahasa Jawa disebut cerkak atau cerita cekak). Hal ini sesuai dengan salah satu kompetensi dasar dalam Kurikulum berbasis Kompetensi aspek bersastra yakni menulis berbagai karya sastra (geguritan dan cerkak).

Kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang menekankan guru untuk menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas. Kurikulum ini bertujuan untuk mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan dalam penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, siswa juga memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkontruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat (Nurhadi 2003:11). Implikasi dari pandangan ini adalah belajar menulis cerita cekak sekaligus belajar nilai-nilai karakter yang secara tidak sadar terinternalisasi dalam rangka proses mengkonstruksi diri. Siswa dapat mengatur diri sendiri. Ia menjadi sadar bahwa pengembangan diri diperlukan tanpa harus takut terhadap lingkungannya. Iapun menjadi sadar bahwa kerja kelompok dan menghargai pendapat orang lain ketika bertukar pengalaman menjadi penting. Siswa, dengan demikian, dapat belajar secara aktif dan mampu mengembangkan minatnya secara individual, Siswa juga dapat bekerja sendiri bekerja dalam kelompok.

Mereka dapat bekerja sambil berbuat dan mereka dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif. Mereka juga dapat tanggap (responsive) ketika menghadapi cerita teman serta menyatakan simpatik maupun menghargai pendapat temannya.

Kurikulum Berbasis Kompetensi bidang sastra yaitu kurikulum pembelajaran sastra yang mengutamakan pada pengalaman bersastra dibandingkan dengan pengetahuan sastra secara teoretis. Sistem pembelajaran kurikulum ini menghendaki agar siswa dilatih beraktivitas dan tidak hanya sekadar mendengarkan sambil mencatat. Siswa diterjunkan langsung untuk mencipta karya sastra secara ekspresif. Pada pembelajaran menulis sastra seperti cerita cekak siswa perlu diarahkan, dibimbing, dan dimotivasi. Hal ini bertujuan supaya proses pembelajaran sastra menyenangkan dan tidak membosankan.

Agar pembelajaran tersebut tercapai diperlukan sebuah pendekatan yang efektif dan efisien yakni pembelajaran menulis sastra melalui pendekatan keterampilan proses. Dalam pendekatan keterampilan proses, guru berperan sebagai fasilitator, dinamisator, organisator sehingga dapat tercipta iklim belajar yang hidup, sedangkan siswa berperan aktif serta kreatif. Dari pembelajaran ini siswa dapat mengambil manfaat tertentu dalam belajar sastra. Siswa tidak hanya sekadar membaca kata-kata, menikmati estetika fiksi, menghayati melalui emosi melainkan akan mengekpresikan gagasannya.

Melalui pendekatan keterampilan proses yang berlangsung di kelas guru menyajikan cara menulis cerita pendek (dalam hal ini cerita cekak) dengan langkah-langkah tertentu yang harus dilalui siswa selama penulisan. Guru memberikan bimbingan langsung mengenai hal-hal yang harus dilakukan oleh siswa, dan membantu siswa yang masih kesulitan dalam proses penulisan. Kesulitan lain yang dihadapi siswa yakni siswa masih kebingungan dalam menentukan tema dan unsur-unsur pembangun cerita cekak yang lainnya.

Dalam hal ini, untuk memudahkan siswa, saya mencoba menggunakan pengalaman pribadi sebagai basis penulisan karena dengan pengalaman pribadinya tentu siswa lebih mudah dalam menentukan unsur-unsur pembangun cerita cekaknya. Hal ini terjadi karena secara tidak langsung siswa merasa mengalami sendiri hal-hal yang ditulisnya.

Pembelajaran ini lebih mengutamakan pada proses penulisan meskipun wujud tulisan (product) juga dinilai. Pengutamaan pada proses menulis ini hadir sebagai antisipasi karena sebagian besar dari siswa masih merasa kesulitan dalam proses menulis. Untuk mengatasi masalah tersebut penulis mencoba menghadirkan bentuk pembelajaran menulis yang lebih menfoskuskan pada proses kegiatan menulis, yakni pembelajaran menulis cerita cekak melalui pendekatan keterampilan proses dengan menyodorkan tujuh langkah sebagaimana terkandung dalam model pembelajaran kinestik.

Keutuhan dan kelengkapan diperlukan dalam menulis cerita cekak. Keutuhan dan kelengkapan tersebut dapat dilihat dari segi unsur-unsur yang membentuknya. Adapun unsur-unsur yang membentuk cerita pendek (cerkak) adalah peristiwa cerita (alur atau plot), tokoh cerita (karakter), tema cerita, suasana cerita (mood dan atmosfir cerita), latar cerita (setting), sudut pandang (point of view), dan gaya (style) pengarangnya. Semua unsur tersebut harus saling mengikat, membentuk kebersamaan dalam penyajian. Tokoh merupakan unsure yang harus ada dalam sebuah cerita. Tokohlah yang menggerakan alur cerita karena tanpa adanya peristiwa yang menimpa tokoh cerita menjadi hambar. Unsur konflik merupakan unsure yang dilekatkan pada diri tokoh. Semakin kompleks sebuah konflik cerita maka cerita menjadi semakin bagus. Hal ini sangat berbeda dengankehidupan sehari-hari. Konflik dalam kehidupan sehari-hari sebaiknya dihindarkan. Namun demikian, bagi seorang penulis konflik menjadi unsure penting yang dapat dikembangkan dan dikemas dalam bentuk alur cerita dengan melekatkan pada diri tokoh cerita.

Penekanan salah satu unsur dalam penulisan cerita cekak sangat penting tetapi bukan berarti meniadakan unsur-unsur yang lain, misalnya penekanan pada unsur tema. Dalam sebuah cerita cekak biasanya ada satu peristiwa atau masalah yang ditampilkan atau diungkapkan. Masalah atau persoalan merupakan dasar atau unsur yang akan mewarnai salah seluruh cerita dari awal hingga akhir. Inilah yang disebut tema atau pikiran dasar dalam cerita cekak serta cerita fiksi lainnya. Tema merupakan sesuatu yang sangat dasar dalam cerita fiktif. Tanpa sebuah tema, karya fiksi tidak mempunyai bobot dan tentunya tidak mempunyai nilai guna terhadap pembaca dan ini adalah satu ciri karya yang tidak baik.

Dalam penulisan cerita cekak (cerkak) tema sangat luas ruang lingkupnya. Perang, kematian, cinta, kebencian, kemelaratan, persahabatan, kebudayaan, keserakahan, pelanggaran hak asasi manusia dapat menjadi tema sebuah cerita. Dari tema ini dapat diambil salah satu topik yang diangkat menjadi materi cerita, misalnya cerita tentang cinta yang putus di tengah jalan. Peristiwa patah hati dalam hal cinta dapat dialami oleh setiap orang. Mungkin pengarangnya mengalami sendiri sehingga dapat mengahayati dan dapat menghasilkan tulisan yang bagus. Pengarang membawa pembaca larut dalam emosi yang dipaparkan melalui tampilan tokoh yang bergerak mengikuti alur cerita.

Unsur lain, misalnya latar juga penting dikembangkan. Karakter tokoh dapat dibaca melalui latar ruang serta latar waktu dan kebiasaan-kebiasaan. Seorang pencuri misalnya, serasa lebih hidup jika ditampilkan pada waktu malam. Ia selalu beraktifitas pada waktu malam hari atau waktu gelap. Sebaliknya, tokoh baik dihadirkan pada waktu terang seperti siang misalnya. Aktifitas siang, sore, dan pagi hari menjadi factor pendfukung memahami seorang tokoh. Peralatan, latar social, pakaian, dan sebagainya menjadi factor pendukung pula memahami tokoh, di samping factor bahasa. Gaya bahasa tokoh, dialog antartokoh, merupakan tanda-tanda semiotic yang harus diperhatikan dalam penulisan cerita.

Cerita cekak (cerkak) yang baik biasanya ditandai dengan pendeskripsian yang baik pula, yaitu pendeskripsian yang membuat cerita hidup di benak pembaca. Ia memikat seluruh indra pembaca. Cerita mampu membangkitkan rangsangan emosional, dan membuat karakter-karakter dan segala unsur kehidupan yang dilukiskan dalam cerita menjadi lebih nyata dan bisa dipercaya. Inilah keistimewaan bahasa sastra. Daya imajinasi secara tidak disengaja mampu mempengaruhi emosi pembaca. Dalam konteks ini, nilai-nilai karakter yang dibawa melalui tokoh cerita menjadi lebih mengena. Penulis cerita memang dituntun untuk terus menerus bergulat dengan lingkungannya. Penggambaran yang hidup dalam segala sesuatu ini dicapai oleh seorang pengarang dengan memperlibatkan kelima indra. Dalam deskripsi yang baik, pembaca ikut melihat sesuatu, mencium baunya, merasakan persentuhan dengannya, mendengar bunyinya dan mengecap rasanya.

Unsur citraan dalam teks sastra dengan demikian akan memberikan rasa estetis kepada para pembaca. Citraan penglihatan mampu mempengaruhi pembaca seolah-olah melihat sendiri peristiwa yang dialami dalam bacaan cerita cekak. Demikian juga dengan citraan lain, seperti yang telah disebut.

Pengarang dapat membuat pendeskripasian yang baik jika pengarang mengalami sendiri segala sesuatu yang akan dideskripsi dalam tulisannya. Pengarang sebaiknya dapat melihat, mencium, merasakan, dan mendengarkan sendiri tentang sesuatu yang akan ditulisnya sehingga ketika proses penulisan, pengarang dapat melakukan penghayatan dengan baik. Hasilnya tentu menghasilkan karya dengan pendeskipsian yang baik pula. Ini berarti pengalaman pribadi cukup berperan dalam penulisan sebuah karya sastra dalam hal ini adalah cerita pendek (cerkak).

Pada aspek inilah siswa kurang menguasai meskipun mereka mengalami peristiwa sendiri. Ini berarti aspek pengorganisasian kalimat dapat saja menjadi penyebab kegagalan menulis pada diri siswa. Mereka kurang menguasai dan merumuskan tema dalam bentuk cerita. Mereka juga kurang mampu menguasai unsure pembangun cerita. Sekadar contoh, dapat saya sodorkan hasil penelitian saya di Semarang. Berdasarkan wawancara dengan guru Bahasa Jawa SMP 1 Semarang dapat diketahui bahwa kemampuan siswa dalam menulis cerita pendek (cerkak) masih kurang. Hal ini disebabkan oleh adanya anggapan bahwa kemampuan menulis sastra dianggap kurang penting dibandingkan dengan penguasaan mata pelajaran lainnya. Siswa juga terlalu banyak dibebani tugas-tugas mata pelajaran lainnya. Akibatnya, siswa dalam kemampuan bersastra agak dikesampingkan yang akhirnya berdampak langsung pada kemampuan siswa yakni siswa merasa kesulitan ketika diberi tugas menulis sastra. Penyebab kesulitan ini siswa merasa kurang mampu menemukan tema dan unsur pembangun cerita pendek yang lainnya. Hal ini didukung pula faktor orang tua yang lebih berharap anaknya menguasai kemampuan eksak tanpa menyeimbangkan dengan kemampuan berbahasa dan bersastra. Faktor yang lainnya, yaitu kekurangtepatan pendekatan yang digunakan oleh guru. Umumnya, guru menggunakan pendekatan pembelajaran yang hanya mengutamakan pada produk penulisan. Berdasarkan hasil wawancara dengan seorang siswa SMPN 1 Semarang, pembelajaran bersastra pada aspek menulis oleh sebagian siswa dianggap kurang penting dibandingkan dengan penguasaan materi yang bersifat eksak. Adapun anggapan tersebut secara tidak langsung merupakan hambatan bagi guru maupun bagi siswa sendiri.

Berdasarkan fenomena-fenomena tersebut perlu dihadirkan sebuah pembelajaran yang dapat membantu mempermudah siswa dalam menulis cerita cekak. Melihat fenomena itu, perlu disusun model pembelajaran sastra yang dapat menjawab permaslahan sebagaimana disebut. Model pembelajaran yang dikembangkan adalah model pembelajaran penulisan cerkak yang berbasis pengalaman pribadi dengan pendekatan proses menjadi alternative dalam rangka pembelajaran penulisan cerita cekak.

Pendekatan keterampilan proses hadir sebagai upaya untuk mengatasi keterbatasan siswa dalam menulis cerita cekak (cerkak) yang disebabkan oleh pendekatan yang kurang tepat. Pengalaman pribadi digunakan sebagai basis penulisan hadir untuk memudahkan siswa menemukan tema dan unsur-unsur pembangun cerita cekak. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil menulis, upaya menanamkan pendidikan karakter menjadi penting dan bermanfaat.

Setelah itu, berikut saya sodorkan tujuh langkah yang dapat menerabas hambatan membangun struktur cerita sekaligus mampu menjadikan wadah nilai-nilai karakter yang nantinya digunakan sebagai dasar penulisan cerita cekak berbasis pengalaman pribadi. Ketujuh langkah yang saya sodorkan itu sebenarnya merupakan aspek-aspek model pembelajaran sinektiks. Ketujuh langkah itu adalah

  1. apersepsi,
  2. pengingatan pengalaman,
  3. pemilihan peristiwa dari berbagai peristiwa yang pernah dialami,
  4. penyusunan rangkaian peristiwa atau urutan peristiwa,
  5. perangkaian peristiwa fiktif,
  6. menyusun cerita cekak,
  7. revisi dan penjadian tulisan cerita pendek.

         Tujuh langkah model sinektiks, yaitu (pengantar). Guru menjelaskan aspek-aspek teoretik cerita cekak. Aspek-aspek teoretik tersebut disampaikan dengan cara sederhana sehingga tidak membingungkan siswa. Aspek teori itu mencakupi pengertian dan unsure-unsur pembangun cerkak. Ketika menerngkan unsure tokoh, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan tema cerita guru wajib memperhatikan keterkaitan antarunsur tersebut. Cerita merupakan bangun struktur yang utuh sehingga tidak sepotong-sepotong. Guru juga perlu menerangkan bagaimana menyusun kalimat yang berbeda antara kalimat bahasa ilmiah dan bahasa sastra. Pilihan kata yang mengandung makna konotatif, bahasa kiasan menjadi penting dihadirkan. Guru juga memberikan materi dasar menulis cerkak yang digunakan dalam pembelajaran menulis cerkak yakni pengalaman pribadi ataupun pengalaman orang lain.

Materi dasar yang disampaikan berupa pengertian dan jenis-jenisnya. Keseluruhaan materi yang disampaikan dalam pembelajaran ini bertujuan sebagai dasar pengetahuan bagi siswa sebelum praktik menulis cerkak. Tahap kedua, deskripsi kondisi saat ini. Pada tahap ini adalah dimulainya pembelajaran menulis cerkak yang berbasis ketrampilan proses. Langkah awal, siswa diminta guru untuk memaparkan atau mendeskripsikan

  1. peristiwa yang dijadikan materi dasar menulis cerkaak (pengalaman pribadimaupun pengalaman orang lain) dan
  2. salah satu peristiwa yang diketahuinya atau yang dialami oleh orang lain yang memiliki kemiripan dengan peristiwa yang pernah dialami dan atau dirasakan.

             Tahap ketiga yaitu proses analogi langsung. Pada tahap ini siswa diminta untuk membandingkan antara duaa peristiwa yng telah digambarkan atau dideskripsi.

Tahap keempat adalah tahap analogi personal. Dalam tahap ini siswa diminta mendeskripsi hal-hal yang ada dalam materi dasar menulis cerkak yang dirasakan atau dialami orang lain dan sebaliknya. Tahap kelima merupakan tahap pemadatan konflik. Siswa pada tahap ini diminta memadukan hal-hal yang ada dalam peristiwa yang dialami oleh orang lain yang kontradiktif dengan yang ada dalam peristiwa yang dialami atau dirasakannya dan sebaliknya. Tahap keenam adalah tahap analogi langsung. Dalam tahap ini siswa diminta untuk menggambarkanatau mendeskripsi kondisi yang mereka idealkan atau mereka harapkan berdasarkan pada pada hasil pemaduan antara hal-hal yang kontradiktif dimaksud. Tahap ketujuh, yaitu pengujian kembali tugas awal.

Siswa diminta menuliskan kembali peristiwa-peristiwa yang dialami. Peristiwa-peristiwa itu merupakan perpaduan antara peristiwa yang terkandung di dalam pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain. Peristiwa itu juga dapat saja berasal dari realitas social ataupun karya sastra lain yang terkandung di dalam peristiwa yang dialami sendiri maupun orang lain. Langkah selanjutnya adalah merangkai peristiwa tersebut dengan kondisi yang mereka idealkan sehinga menghasilkan sebuah cerita pendek.

Pada setiap tahapan, nilai-nilai karakter yang ingin ditanamkan dapat dieksplisitkan. Pertama-tama menentukan tokoh pelaku. Pemilihan nama tokoh dapat saja merupakan muatan nilai-nilai karakter yang ingin ditanamkan. Misalnya tokoh bernama Sabar atau Sarjono. Tokoh juga dapat bernama Kesed karena cerita cekak yang ingin ditulis merupakan cerita yang sebaliknya tidak perlu ditiru siswa. Nama Kesed menjadi tokoh yang tidak harus antagonis. Tokoh ini bias saja menempati posisi protagonist semisal nilai-nilai kebenaran disampaikan melalui perbuatannya, meskipun dengan gerakan alur yang lambat (kesed). Nilai-nilai multicultural, dalam hal ini menjadi alternative dalam rangka penamaan para tokoh. Nama tokoh dari daerah lain, klas social minoritas dapat menjadi pilihan penanaman pendidikan karakter.

Ketika menyusun konflik cerita, guru bisa mengarahkan tokoh minoritas yang memenangkan perdebatan karena secara nalar memang harus diterima. Nilai menghargai pendapat yang minoritas, merupakan apresiasi kepada yang berbeda itu. Kelompok mayoritas memberikan ruang kosong kepada yang sedikit itu, dan sebagainya.

Unsur gaya bahasa sangat terbuka dimasuki pendidikan atau nilai-nilai karakter. Bahasa Jawa merupakan bahasa yang secara otomatis mengandung tataran nilai-nilai karakter. Penggunaan bahasa pada tataran tertentu menjadi sarana pembelajaran karakter. Demikian juga unsure pembanguncerita yang lain dapat dijadikan sebagai wahana pendidikan karakter. Tema misalnya, menjadi kerangka dasar yang nantinya disusun menjadi cerita cekak yang menarik.

3/

Sebagai penutup, makalah ini dapat dikatakan sebagai pemantik diskusi dan sekadar masukan dalam pembelajaran sastra, khususnya pembelajaran menulis cerita cekak. Tujuh langkah yang saya sodorkan ini dapat saja berkembang sesuai dengan kebutuhan dan konteks social peserta didik (siswa) yang memang memiliki karakteristik berbeda antara daerah satu dengan lainnya.

Pustaka

  • Faruk. 1994.Pengantar Sosiologi Sastra: Dari Strukturalisme Genetik sampai  Postmodernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • ……………… 2002. Novel-Novel Indonesia Tradisi Balai Pustaka 1920-1942. Yogyakarta: Gama Media.
  • Gramsci, Antonio. 1985. Selections From the Prison Notebooks. Edited dan
  • Translated: Quintin Hoare dan Geoffrey Nowell Smith. New York: International Publisher.
  • Nuryatin, Agus. 2010. Tujuh Langkah Menulis Cerpen. Semarang: Unnes Press.

Data Penulis:

Nama : Prof.Dr. Agus Nuryatin, M.Hum
Pekerjaan : Dosen, Delkan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang
Alamat : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran Gunungpati Semarang

1 Komentar (+add yours?)

  1. Suliyanto
    Mar 28, 2013 @ 09:09:01

    Maturnuwun, Bapa. Seratan punika satuhu hamimbuhi seserepanipun para dwija basa Jawi ing reh kawasisan nyerat, mliginipun carita cekak. ”Guru durung mesthi bisa ngarang, ananging dibisa nuduhake dalan padhang marang murid-muride. Iku kudu, kareben bocah-bocah ora keblasuk anggone lumaku. Saliyane kuwi, wong lumaku lumrahe migunakake sikil, ananging kala mangsane wong prelu lumaku migunakake rasa lan pikir. Kang mangkono iku dadi sawah-tegale kasusastran. Rak ya mangkono ta, Lur?”

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: